Selasa, 12 Maret 2019

Mahasiswa Kupu-Kupu


Namanya Ikiw, biasa dipanggil orang sekitanya begitu. Nama sebenarnya panjang, hingga harus di singkat pada kolom isian nama pas ujian nasional, adalah Muhammad Rizky Fadhilla. Perawakan kisaran 158 hingga 160 centimeter. Dipanggil ke dunia pada 12 Maret, dua puluh tahun yang lalu di bumi melayu, Pekanbaru. Punya kulit coklat bak buah sawo setengah matang, dan agak pucat, tapi bukan lagi sakit tipes. Abu-Abu? Bisa jadi.

Anak pertama dari tiga orang bersaudara. Adiknya yang kedua tengah berkuliah di kota hujan Bogor di salahsatu kampus ternama, IPB. Dan adiknya yang paling kecil dimasukkan orang tuanya di sekolah pesantren di daerah Banten. Alasan mengapa masuk IPB karena adik keduanya memang pintar, dan alasan adik terkecilnya masuk pesantren, untuk tetap menjaga hafalan Quran nya saat ia masih di sekolah dasar.  Sedangkan ia, Rizky,  kamu dimana? Masih tetap di Pakanbaru.
“Mereka keluar daerah semua mengapa abangnya masih disini?”

 “karena saya cinta Pekanbaru”, jawab rizky dengan wajah agak meledek.
Berdarah minang dari Ibunya, dan Jawa dari Ayahnya. Sejak dulu Rizky kecil paling dekat dengan embahnya dikarenakan orangtuanya dulu ketika bekerja selalu menitipkan ia di embahnya. Sebelum memutuskan berpindah tempat tinggal di kualu, panam, Rizky dan orang tuanya berada di Sukajadi. Plot dan twist nya, tempat tinggalnya yang dipanam sekarang dengan kampusnya yang sekarang.

Waktu kecil ia adalah anak manusia yang sering sakit-sakitan. Itu terjadi saat ia balita. ada saja penyakit yang ia alami. Sempat ia mengalami step (kejang demam) sebanyak tigakali. Mitosnya jika anak mengalami kejang demam atau step lebih dari tiga kali, otaknya akan terganggu dan menjadi bodoh. “Hampir saja..”.

 Beberapa kali juga ia merasakan bagaimana ritual pengobatan tradisional dulu yang ia alami. Seperti mandi kembang tujuh rupa tengah malam. Tidak tau apa manfaatnya selain mengharumkan badan. Yang pasti kesehatan. Begitu informasi yang ia dapat dari embahnya. Jika dilihat bukan mirip pengobatan. Malah mirip  pesugihan dengan anak kecil sebagai tumbalnya. Entah lah.

Ia seorang mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi, yang berlatar belakang –kan sekolah menengah kejuruan teknik komputer jaringan. Sudah ahli di bidangnya pada saat SMK, malah keluar jalur jurusan saat kuliahnya. Katanya mau tidak mau, cari aman ketika ia dinyatakan lulus di kampus Uin Suska saat SBMPTN. “Jika tidak kuliah memang mau ngapain lagi? Gak punya kebun untuk dibersihin. Gak punya sawah untuk di bajak. Gak punya kebun sawit untuk di dodos, dan gak punya kebun karet untuk di deres.” Kata ibunya.

Dengan alasan itulah dia memutuskan mencintai jurusan yang ia geluti sekarang. Yaitu jurnalistik. Sebenarnya ada alasan lainnya, yaitu menghindari uang kuliah yang mahal. Jika tidak masuk di universitas negeri, dan masuk di universitas swasta, tidak bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk berkuliah. Tiga juta limaratus ribu lah uang per semester yang dibayarkan orang tuanya saat ini.

Rizky di kampus dikenal bersahabat. Memang awalnya banyak yang menilai ia adalah orang yang cuek, tetapi sebenarnya tidak begitu. Mungkin karna ia tidak mau banyak omong tentang suatu hal, dan lebih memilih cerita hanya kepada beberapa temannya saja. Hampir tidak ada pernah terdengar masalah terhadap perkuliahannya selama ini. “Kuliah ini hanya mengalir mengikuti arus tetapi tidak pasrah.” Ujarnya dengan nada percaya diri sambil meminum minuman teh thailand.

Bukannya hampir tanpa celah, nilai yang keluar dari KRS rizky yang bisa di bilang aman dalam perkuliahan ini pun tak luput dari nilai C. Hal itu terjadi saat ia duduk di semester 2. Pada saat itu matakuliah pengantar jurnalistik.

“Entah apa yang terjadi pada ibu dosen tersebut sehingga memberikan kami nilai C. Iya kami, hampir satu kelas yang mendapatkan C.  Mungkin pas ngisi nilai ibu dosen kurang vitamin C dan kurang konsentrasi ngisi nilainya, ya di isi C aja. Terimakasih bu, berkatmu saya gak bisa jadi cumlaude.” ujar Rizky kesal.

Hanya itu permasalahan nilai yang dialami Rizky saat kuliah. Sisanya ia menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Kegiatannya yang stagnan membuatnya melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Dari rumah ke kampus untuk kuliah, setelah selesai kuliah ia langsung pulang kerumah, begitu terus hingga bisa di bilang ia adalah sosok mahasiswa yang mampu mewakili tipikal dari mahasiswa kupu-kupu. Tetapi rizky, mengindahkan julukan tersebut. Menurut nya, tidak masalah seorang mahasiswa begitu. Ia berhak mengatur siklus kehidupannya. Itu hak.

Karena ia kerap rumah-kampus kampus-rumah mungkin jika di telusuri jejak nya pada saat itu di google maps, akan tampak seperti pola dari rute yang ia tempuh. Itu adalah rute yang mempunyai intensitas tinggi, bila jejak-jejak kakinya meninggalkan noda pada pencitraan bili kita lihat itu dari satelit NASA di luar angkasa sana.

Rizky bukannya mahasiswa yang tidak pernah mencoba organisasi internal yang ada di dalam kampus. Ia pernah ingin masuk pada lembaga pers di kampus, sudah mendaftar, tetapi tidak jadi. Ia juga pernah begabung di salahsatu media pertelevisian di kampus. Tetapi ia keluar karna menurutnya merepotkan, dan merasa perkuliahannya terganggu.

Menurutnya menjadi mahasiswa seperti itu menghemat waktu. Jika selesai pada perkuliahan ia bisa beristirahat dirumah atau sekedar berkumpul dengan teman hanya untuk menghilangkan rasa capek otak akibat dari kerasnya gencaran mata kuliah yang diberikan dosen pada mahasiswa.

Munurutnya urusan rugi karena tidak mengikuti kegiatan internal kampus itu menjadi persoalan personal. Tidak mengikuti kegiatan kampus bukannya menghilangkan kegiatan membangun relasi. Dan juga tidak semua kegiatan di kampus, setiap harinya bermanfaat dan memunculkan benefit yang lebih terhadap anggota-anggotanya. Toh ini persoalan pribadi, ujarnya.

Ada juga yang mengatakan mahasiswa kupu-kupu sering dibilang kuliah hanya untuk absen. Stigma itupun melekat pada sorang Rizky. Tapi menurutnya tidak masalah, menurutnya itu masih mending, pergi kuliah hanya untuk absen, daripada mahasiswa yang kuliah absennya terisi tetapi orangnya tidak ada. Kaya tuyul, mahasiswa tuyul?

Dengan menjadi mahasiswa kupu-kupu ia dapat fokus belajar, tidak terganggu denga  apapun. Tugas dari organisasi? Sepertinya itu memberatkan bagi sebahagian mahasiswa. Terlebih untuk orang yang tidak mau ribet seperti Rizky ini.

Mahasiswa kupu-kupu juga menghemat biaya atas hidup dengan perkuliahan. Banyangkan harus bolak balik kesana kemari untuk melaksanakan kegiatan organisasi. Belum lagi biaya yang di keluarkan, pasti ada biaya saat mengikuti kegiatan organisasi. Baik itu yang dikeluarkan untuk dirisendiri ataupun hal lain.

Walaupun kebiasaan rizky sepulang perkuliahan hanya itu-itu saja, tetepi ia cukup menikmati apa yang dilakukannya. Setelah pulang perkuliahann ia biasanya hanya bermain game, menonton televisi atau sekedar mendengarkan lagu. Menurutnya itu lebih baik ketimbang harus berfikir lagi dalam keadaan di dalam suasana organisasi yang pastinya ribet.

Berargumen bahwa mahasiwsa kupu-kupu itu adalah hal yang benar juga sepenuhnya salah. Orang-orang berbda dalam mendapatkan pengalaman dalam hidupnya. Begitu pula mahasiswa. Rizky tipikal orang yang begitu, tidak bisa kita samakan denga orang lain yang kerap mondar mandir kampus karena kegiatan organisasi kampus atau menjadi babu di dalamnya. Ups.

Ia, Rizky, menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa kupu-kupu bukan berarti fungsi sosialnya tidak berlaku dalam kehidupan sosial, karena ia mempunyai pemikiran bahwa dalam perkuliahan haruslah sungguh-sunggu dalam menuntut ilmunya, dan ketika lulus harus bisa mempertanggung jawabkan ilmunya yang ia dapat selama di perkuliahan.

Selama ini Rizky bisa dibilang menjalani perkuliahant tanpa ada satupun kesan yang wah. Tidak seperti orang-orang yang mempunyai banyak lika-liku dalam perkuliahannya karena beberapa hal. Menurut Rizky perkuliahannya bukannya tidak ada likaliku, hanya satu dua pengkolan saja yang ia temui semasa berkuliah. Sisanya hanya jalan lurus yang ia nikmati. Menurutnya lagi, satu-satunya yang belikaliku hanyalah jalan ia pergi dari rumah ke kampus dan pulang dari kampus ke rumah. Cuma itu. Wow.

Tidak seperti orang perantauan, mungkin mendapat banyak cobaan, dari mulai uang bulanan yang habis dan tak kunjung di kasih oleh orang tua di kampung, sehingga mengganti makan malam dengan seteguk air putih dan obat sakit kepala. Hingga permasalahan homesick karena tahun ini tidak pulang ke kampung.

Karena itu tadi, rumah yang dekat dan pembawaan Rizky dalam hidupnya yang easygoing, menjadikannya ia terlihat lebih menikmati sisa masa hidupnya ketimbang harus mencari masalah yang sebenarnya mudah sekali di cari.

Sekian dari tulisan saya, sulit sekali menemukan lika-liku dalam perkuliahan di diri Rizky ini. Otak saya harus bekerja dua kali lebih ekstra untuk memikirkan apa saja lika liku nya tanpa harus mengarang cerita bohong. Terlebih sekarang liburan, bagaimana bisa membuat tugas di saat liburan tanpa kendala dengan hal-hal lain. Semua ini demi memenuhi tugas ku. Tugas feature yang tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar