Izinkan seorang yang bingung dengan keadaan, menulis apa yang ingin dia tulis.
Dengan akses media social yang amat meluas sekarang, kemudahan informasi dan ke tepatan informasi menjadi hal yang biasa saja. Menjadikan semua orang yang mempunyai akses ke sana bisa terhubung dengan murah dan mudah. Terlebih-lebih menjamurnya smartphone dan robot-robot lainnya yang bisa di dapatkan dengan harga miring. Membuat dari kalangan anak-anak hingga bau tanah bisa menikmatinya. Dimana pengguna paling banyak rata-rata remaja hingga dewasa.
Pemanfaatan media social mulai hal besar hingga kesenangan semata sudah lumrah di dunia ini.
Melihat ke awal muncul nya facebook saja, saya sebagai pengguna mengindahkan fitur-fitur berbagi status yang di hadirkan facebook. Mungkin saya ketinggalan jaman, ada gak media social yang menghadirkan fitur berbagi status sebelum facebook? Beritahu saya.
Entah kenapa awal saya begelut dengan facebook, jari saya seakan tidak ingin lepas dari keyboard ataupun keypad dari handphone. Setiap saya mau tidur, baru bangun, makan, buang hajat, selalu ingin mengupdate status yang ada di wall facebook saya. Sampai sekarang saya masih bingung melihat status-status tidak berfaedah saya yang pernah saya buat dulu.
Oke tinggalkan dulu hal-hal saya yang dahulu.
Sampai sekarang saya masih bermain facebook, alasannya karena sudah bermain lama, jadi susah lepas. Informasi-informasi darisana lebih banyak saya dapatkan ketimbang social media saya lainnya seperti twitter dan instagram.
Oke sekarang saya akan membahas sajak.
Sajak merupakan puisi baru yang bebas dari aturan-aturan. Penjelasan ini menjelaskan bahwa sajak bisa di buat asalkan dengan kata-kata yang indah, untuk penyampaiannya. Menurut saya sajak bisa di buat oleh semua orang, asal mempunyai beberapa kata puitis.
Saya bingung mau nulis apalagi. Haha..
Langsung saja deh.
Apa sih korelasi nya antara social media dan sajak. Sesuai dengan yang saya utarakan tadi, kemudahan berbagi informasi dengan status menjadikan kita khususnya para remaja otw gede, terlalu lebay. Kemudahan berbagi itu menjadikan semua kata indah nan harum yang ada di otak kita, kita utarakan di dalam dinding medsos. Mulai dari curhatan dan beberapa puisi kita buat dan bagikan. Jika otak tak sanggup mengluarkan dan menyusun kata indah tersebut, perilaku instan pun muncul dengan mengcopy paste karya orang (amit-amit).
Pengamatan saya sejauh saya bermain social media khususnya sekarang, hal-hal ini mungkin sudah menjadi tingkah bawaan lahir. Ketika seorang anak manusia yang di kenalkan dengan media social, otomatis aja akan begitu. Entah itu termotivasi dari orang lain atau tidak.
Pemanfaatan media social mungkin bisa kita optimalkan lagi. Bukan saya melarang anda membuat sajak dan membagikannya ke orang-orang. Tatapi lebih ke mengingatkan saja jangan sampai keterlaluan. Banyak orang-orang di sana menjadi sajakers-sajaker yang menurut saya terlalu over, out of mind, sehingga apa yang dia ciptakan secara tidak sadar menjatuhkan dirinya. Jadilah orang cerdas, bersajaklah seperlunya, jika tak tertahan silahkan keluarkan tetapi dengan cara, isi yang cerdas, dan keadaan yang tepat.
Sekian tulisan saya yang acakadut ini.
Sepatah kalimat…
Suka boleh, tapi jangan jadi budak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar